Praya PKP dan PKPR POUK PGIW Sulselra 2026: Ketika Perjumpaan Menjadi Kesaksian
Oleh Administrator
180 kali dibaca
Utuh dalam Iman, Harmoni dalam Pelayanan
Praya PKP dan PKPR POUK PGIW Sulselra 2026: Ketika Perjumpaan Menjadi Kesaksian
Makassar, 10–13 September 2026 — Gendang ditabuh. Suaranya menggema, membuka sebuah perjumpaan yang bukan sekadar pesta perlombaan. Di Makassar, sepuluh gereja POUK dalam lingkup PGIW Sulselra berkumpul, membawa semangat, talenta, persahabatan dan kerinduan untuk merayakan kebersamaan.
Itulah suasana yang mewarnai Praya PKP dan PKPR POUK PGIW Sulselra yang berlangsung pada 10–13 September 2026. POUK Dirgantara menjadi tuan rumah, dengan seluruh rangkaian kegiatan dipusatkan di Jemaat Riorita.
Tahun ini, seluruh kegiatan diletakkan dalam satu tema yang sederhana tetapi memiliki makna yang dalam:
«“Utuh dalam Iman, Harmoni dalam Pelayanan.”»
Tema tersebut bukan sekadar tulisan yang menghiasi spanduk kegiatan. Ia menjadi pesan yang hendak dihidupi bersama: bahwa gereja dipanggil untuk menjadi satu dalam iman, sekalipun memiliki latar belakang, karakter, kemampuan dan pengalaman yang berbeda.
Dimulai dari Meja Persekutuan
Rangkaian kegiatan diawali dengan ibadah pembukaan yang dipimpin oleh Ketua Umum MPH PGIW Sulselra, Pdt. Yohanis Metris, M.Th.
Ibadah menjadi titik awal yang penting. Sebelum para peserta bertanding, mereka terlebih dahulu ditempatkan dalam satu kesadaran: bahwa semua yang dilakukan adalah bagian dari kehidupan dan pelayanan gereja.
Kemudian berlangsung seremoni pembukaan yang dilakukan bersama oleh Ketua Umum PGIW Sulselra dan Pangkosau II. Sebuah momen simbolis hadir ketika keduanya menabuh gendang bersama sebagai tanda dimulainya Praya PKP dan PKPR POUK PGIW Sulselra 2026.
Tabuhan itu seakan mengatakan: mari kita mulai perjumpaan ini bukan dengan mempertajam perbedaan, tetapi dengan membangun kebersamaan.
Bukan Sekadar Mencari Juara
Lapangan dan arena pertandingan kemudian menjadi ruang perjumpaan.
Ada paduan suara yang menuntut kekompakan suara. Ada bola voli yang membutuhkan kerja sama. Ada bulutangkis yang menguji ketangkasan. Ada senam kreasi yang memperlihatkan kreativitas. Ada cerdas cermat Alkitab yang menguji pengetahuan dan pemahaman iman. Dan ada berpacu dalam Kidung Jemaat yang membawa peserta kembali kepada kekayaan nyanyian iman gereja.
Setiap cabang memiliki karakter yang berbeda. Tetapi semuanya mengajarkan satu hal yang sama: tidak seorang pun dapat berjalan sendiri.
Dalam paduan suara, suara yang paling kuat tidak boleh menenggelamkan suara yang lain. Dalam bola voli, satu pemain tidak mungkin memenangkan pertandingan sendirian. Dalam pelayanan pun demikian. Gereja bukan panggung bagi satu orang, melainkan ruang di mana berbagai karunia dipersembahkan bersama.
Di sinilah Praya menemukan maknanya.
Kompetisi boleh menghasilkan juara, tetapi persekutuan harus menghasilkan persaudaraan.
Ketika Menang Tidak Membuat Kita Terpisah
Pada akhirnya, setiap perlombaan memang memiliki hasil. Ada yang mendapat nilai tertinggi, ada yang harus menerima kekalahan. Ada kegembiraan, ada pula rasa kecewa.
Namun justru di situlah iman diuji.
Sebab menjadi satu dalam Kristus bukan berarti selalu menang bersama. Menjadi satu berarti ketika menang kita tidak merendahkan yang kalah, dan ketika kalah kita tidak kehilangan persaudaraan.
Kemenangan tidak boleh menjadi alasan untuk menyombongkan diri. Kekalahan juga tidak boleh menjadi alasan untuk menjauh.
Karena itu, semangat “Utuh dalam Iman, Harmoni dalam Pelayanan” menjadi jauh lebih penting daripada sekadar perolehan piala.
Wowondula Sekber Luwu Timur: Juara Umum
Setelah seluruh rangkaian perlombaan dilaksanakan, Jemaat Wowondula Sekber Luwu Timur berhasil meraih Juara Umum Praya PKP dan PKPR POUK PGIW Sulselra 2026.
Prestasi tersebut tentu menjadi kebanggaan bagi Jemaat Wowondula. Tetapi kemenangan itu sekaligus menjadi bagian dari cerita besar seluruh peserta.
Sebab sesungguhnya, ketika satu jemaat mendapatkan piala, seluruh persekutuan POUK mendapatkan sukacita.
Di atas podium mungkin hanya ada satu nama yang disebut sebagai juara umum. Tetapi dalam persekutuan gereja, tidak ada yang benar-benar kalah ketika semua pulang dengan persaudaraan yang semakin kuat.
Dari Makassar, Pulang Membawa Semangat Baru
Empat hari mungkin terasa singkat. Tetapi sebuah perjumpaan yang baik tidak berakhir ketika acara ditutup.
Para peserta akan kembali ke jemaat masing-masing. Mereka membawa pengalaman, cerita, tawa, mungkin juga pengalaman menang dan kalah. Tetapi yang paling penting, mereka membawa kembali kesadaran bahwa mereka adalah bagian dari keluarga besar POUK PGIW Sulselra.
Inilah makna terdalam dari sebuah persekutuan.
Gereja tidak dipanggil untuk berjalan dalam kelompok-kelompok kecil yang saling berjarak. Gereja dipanggil untuk menghadirkan kesatuan tubuh Kristus di tengah keberagaman.
Utuh dalam iman berarti berakar pada Kristus.
Harmoni dalam pelayanan berarti belajar berjalan bersama.
Dan ketika keduanya bertemu, pelayanan gereja tidak lagi menjadi ruang untuk menunjukkan siapa yang paling hebat, tetapi menjadi ruang untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan.
Praya PKP dan PKPR POUK PGIW Sulselra 2026 di Makassar pun menjadi lebih dari sekadar sebuah agenda empat tahunan. Ia menjadi sebuah pengingat bahwa persekutuan harus dirayakan, persaudaraan harus dirawat, dan pelayanan harus dikerjakan bersama.
Gendang telah ditabuh di awal kegiatan.
Kini, yang diharapkan terus bergema bukan lagi suara perlombaan, melainkan suara persaudaraan, kesatuan iman dan harmoni pelayanan dari seluruh POUK PGIW Sulselra.