Seminar dan Diskusi Akademis-Ekumenis "Menakar Hakikat & Perspektif Teologis terhadap Pekabaran Injil dalam Konteks Masyarakat Majemuk” wujud nyata kolaborasi GZB dan PGIW Sulselra
Oleh Administrator
397 kali dibaca
#PGIW SULSELRA
#eukumene
#akademis
#Kemenag
#GZB
SAMBUTAN KETUA UMUM PGIW SULSELRA
Seminar dan Diskusi Akademis-Ekumenis
“Menakar Hakikat Pekabaran Injil dalam Konteks Masyarakat Majemuk”
Salam sejahtera bagi kita semua.
Yang saya hormati para pimpinan gereja, para pimpinan dan dosen sekolah tinggi teologi, para narasumber dan penanggap, para akademisi, para mahasiswa teologi, saudara-saudari dari berbagai denominasi gereja, serta seluruh peserta Seminar dan Diskusi Akademis-Ekumenis yang saya kasihi di dalam Tuhan.
Pertama-tama, marilah kita menaikkan puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus karena oleh kasih dan penyertaan-Nya kita boleh berkumpul di tempat ini dalam satu persekutuan, meskipun kita datang dari latar belakang gereja, tradisi teologi, dan pengalaman pelayanan yang berbeda.
Atas nama Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara, saya menyampaikan selamat datang dan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah mengambil bagian dalam pertemuan yang sangat penting ini.
Bagi saya, pertemuan ini bukan sekadar sebuah seminar. Ini adalah sebuah ruang perjumpaan gereja.
Kita datang bukan hanya untuk berbicara, tetapi juga untuk mendengar.
Bukan hanya untuk menyampaikan apa yang kita yakini, tetapi juga untuk membuka diri terhadap pertanyaan, kritik, pengalaman, dan perspektif saudara-saudari kita.
Dan justru di situlah saya melihat nilai penting dari pertemuan ini.
Saudara-saudari yang saya hormati,
Kita semua mengakui bahwa gereja dipanggil untuk menjalankan tripanggilan gereja: koinonia, diakonia, dan marturia—bersekutu, melayani, dan bersaksi.
Namun, sebagaimana dikemukakan dalam TOR kegiatan ini, ketika sampai pada penghayatan mengenai marturia atau kesaksian, gereja-gereja dapat memiliki penekanan dan nuansa teologis yang berbeda.
Ada yang memberikan penekanan kuat pada Pekabaran Injil secara verbal dan sengaja kepada mereka yang belum mengenal Kristus.
Ada pula yang lebih menekankan dialog, kehadiran gereja, pelayanan, keadilan sosial, kepedulian ekologis, dan kesaksian hidup dalam konteks masyarakat majemuk.
Perbedaan tersebut nyata.
Dan menurut saya, kita tidak perlu takut mengakuinya.
Sebab gereja yang dewasa bukanlah gereja yang tidak mempunyai perbedaan. Gereja yang dewasa adalah gereja yang mampu mengelola perbedaan dalam kasih dan kebenaran.
Karena itu, saya menyambut baik keberanian seminar ini untuk mempertemukan berbagai perspektif.
Saudara-saudari,
Ada satu hal yang menurut saya sangat penting untuk kita pegang selama tiga hari pertemuan ini:
Jangan sampai kita lebih sibuk mempertahankan posisi kita daripada mendengarkan apa yang hendak Tuhan ajarkan kepada kita melalui percakapan ini.
Sebab kalau seminar ini hanya bertujuan membuktikan bahwa kelompok saya benar dan kelompok yang lain salah, maka kita akan kehilangan kesempatan yang sangat berharga.
Tetapi kalau kita datang dengan kerendahan hati akademis dan kerendahan hati iman, maka perbedaan dapat menjadi sumber pembelajaran.
Kita dapat bertanya:
Apa yang sebenarnya dimaksud dengan Pekabaran Injil?
Apa hakikat kesaksian gereja?
Apa hubungan antara pemberitaan Injil dan kehadiran gereja di tengah masyarakat?
Bagaimana kita memahami Amanat Agung dalam konteks Indonesia?
Bagaimana kita mempertahankan kesetiaan kepada Kristus sekaligus menghormati sesama yang berbeda iman?
Dan bagaimana gereja dapat bersaksi sedemikian rupa sehingga Injil sungguh-sungguh menjadi kabar baik, bukan sesuatu yang dipersepsikan sebagai ancaman?
Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang menurut saya perlu kita bawa dalam percakapan.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,
Saya juga ingin menggarisbawahi bahwa Pekabaran Injil tidak boleh direduksi menjadi sekadar persoalan metode.
Kita memang dapat berbicara tentang metode evangelisasi, strategi, pendekatan kontekstual, dialog, pemuridan, dan berbagai bentuk pelayanan.
Tetapi sebelum berbicara mengenai metode, kita perlu kembali kepada pertanyaan yang lebih mendasar:
Injil macam apa yang kita beritakan?
Siapakah Kristus yang kita beritakan?
Dan dengan sikap seperti apa kita membawa kesaksian itu kepada dunia?
Sebab cara kita memahami Injil akan memengaruhi cara kita menjalankan misi.
Dan cara kita memahami sesama manusia juga akan memengaruhi cara kita bersaksi kepada mereka.
Karena itu, saya berharap seminar ini tidak hanya menghasilkan perdebatan mengenai apakah Pekabaran Injil harus dilakukan secara verbal atau melalui kehadiran transformatif.
Lebih dari itu, kiranya kita menemukan kedalaman hubungan antara proklamasi, kesaksian hidup, pelayanan, dialog, dan kehadiran gereja di tengah masyarakat.
Saudara-saudari,
Kita hidup di Indonesia.
Indonesia bukan ruang yang homogen.
Kita hidup bersama saudara-saudari yang berbeda agama, budaya, suku, tradisi, dan cara memahami kehidupan.
Dalam konteks seperti ini, gereja dipanggil untuk tetap menjadi gereja.
Kita tidak boleh kehilangan identitas iman kita.
Tetapi pada saat yang sama, identitas Kristen tidak boleh membuat kita kehilangan kemampuan untuk menghargai dan mengasihi sesama.
Karena itu, salah satu pertanyaan penting bagi gereja masa kini adalah:
Bagaimana kita dapat berdialog tanpa kehilangan identitas, dan bagaimana kita dapat mempertahankan identitas tanpa kehilangan kasih?
Saya kira inilah salah satu tantangan besar misi gereja di Indonesia.
Saudara-saudari yang saya hormati,
Ekumene juga perlu kita pahami secara lebih dewasa.
Ekumene bukan berarti semua gereja harus mempunyai pemikiran yang sama.
Ekumene justru memungkinkan kita untuk berkata:
“Saya mempunyai keyakinan teologis saya, tetapi saya bersedia mendengar keyakinan saudara saya.”
“Saya mempunyai perspektif saya, tetapi saya tidak menutup diri terhadap pertanyaan yang mungkin memperkaya perspektif saya.”
Dan yang paling penting:
Saya tidak harus menganggap saudara saya sebagai ancaman hanya karena ia melihat sesuatu secara berbeda.
Saya berharap semangat seperti inilah yang mewarnai seminar kita.
Bukan semangat untuk mencari pemenang.
Bukan semangat untuk mengalahkan perspektif lain.
Tetapi semangat untuk bersama-sama mencari pemahaman yang semakin matang mengenai panggilan gereja.
Saudara-saudari,
Saya mengapresiasi bahwa seminar ini tidak berhenti pada diskusi selama tiga hari.
TOR kegiatan ini merencanakan agar hasil seminar dikembangkan menjadi sebuah buku kumpulan esai teologis yang dapat menjadi referensi akademis, khususnya bagi mahasiswa teologi.
Ini berarti apa yang kita bicarakan di sini diharapkan tidak berhenti sebagai percakapan sesaat.
Ia dapat menjadi bagian dari perjalanan pemikiran gereja.
Karena itu, kepada para narasumber dan penanggap, saya menyampaikan penghargaan yang tinggi.
Kiranya keberanian Bapak dan Ibu untuk menyampaikan pemikiran, termasuk pemikiran yang mungkin berbeda, menjadi sumbangan yang berharga bagi gereja.
Kepada para mahasiswa teologi, saya juga ingin mengatakan:
Jangan takut bertanya.
Jangan merasa bahwa pertanyaan adalah tanda kelemahan iman.
Pertanyaan yang jujur dapat menjadi pintu menuju pemahaman yang lebih dalam.
Belajarlah bukan hanya untuk mengetahui apa yang gereja kita yakini, tetapi juga memahami mengapa gereja kita meyakininya dan bagaimana iman itu dihidupi dalam konteks nyata.
Saudara-saudari yang saya kasihi,
Pada akhirnya, saya berharap setelah tiga hari ini kita tidak hanya pulang membawa catatan seminar.
Kiranya kita pulang dengan cara pandang yang lebih luas, iman yang semakin matang, dan hati yang semakin terbuka terhadap panggilan gereja.
Kiranya kita dapat membawa satu semangat:
Berakar kuat dalam Kristus,
terbuka dalam percakapan,
dan hadir bagi dunia.
Sebab gereja tidak dipanggil untuk hidup bagi dirinya sendiri.
Gereja dipanggil untuk menjadi saksi.
Tetapi bagaimana kesaksian itu diwujudkan dalam masyarakat majemuk, itulah yang hendak kita pergumulkan bersama.
Karena itu, atas nama PGIW Sulawesi Selatan dan Tenggara, saya menyambut baik pelaksanaan Seminar dan Diskusi Akademis-Ekumenis ini.
Mari kita memasuki percakapan ini dengan kebebasan akademis, kedalaman teologis, keterbukaan ekumenis, dan terutama dengan kerendahan hati di hadapan Tuhan.
Selamat berdiskusi.
Selamat berteologi.
Selamat memperkaya gereja.
Dan kiranya seluruh percakapan kita menolong gereja semakin setia kepada Kristus dan semakin hadir sebagai berkat bagi masyarakat Indonesia yang majemuk.
Tuhan memberkati kita semua.
Terima kasih.
Tuhan Yesus memberkati.
#Inforkom PGIW SULSELRA