PGIW Sulselra Dorong Gerakan Ketahanan Keluarga di Tana Toraja
Oleh Administrator
83 kali dibaca
#PGIW SULSELRA
#Inforkom PGIW SULSELRA
#GEREJA TORAJA
#Pemkab Tana Toraja
#TP PKK
PGIW Sulselra Dorong Gerakan Ketahanan Keluarga di Tana Toraja
TANA TORAJA — Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara (PGIW Sulselra) mendorong lahirnya gerakan bersama untuk memperkuat ketahanan keluarga di Tana Toraja.
Dorongan tersebut mengemuka dalam Seminar dan Konsultasi Publik Ketahanan Keluarga yang digelar PGIW Sulselra bersama BPW 3 Makale Gereja Toraja, Pemerintah Kabupaten Tana Toraja, TP PKK, dan gereja-gereja anggota PGIW Sulselra, 3–5 September 2026, di Gedung Tammuan Mali’.
Kegiatan mengusung tema “Membangun Keluarga Kristen yang Tangguh, Sehat, dan Misioner di Tengah Perubahan Zaman.” Seminar diikuti unsur gereja, pemerintah, TP PKK, lembaga masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.
Ketua Umum MPH PGIW Sulselra, Pdt. Yohanis Metris, M.Th., mengatakan ketahanan keluarga tidak dapat dibangun oleh satu lembaga saja. Gereja, pemerintah, keluarga, dan masyarakat perlu berjalan bersama menghadapi berbagai persoalan yang semakin kompleks.
«“Oikumene bukan soal menyeragamkan gereja, melainkan berjalan bersama dalam keberagaman untuk mencapai tujuan yang sama,” kata Yohanis.»
Menurutnya, tantangan keluarga saat ini tidak hanya berkaitan dengan persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut kesehatan mental, kekerasan, penyalahgunaan narkoba, pornografi, kecanduan gawai, perundungan siber, serta semakin berkurangnya komunikasi antara anggota keluarga.
Keluarga sebagai Gereja Rumah Tangga
PGIW Sulselra juga menempatkan keluarga sebagai ekklesia domestika, atau gereja rumah tangga. Keluarga dinilai sebagai tempat pertama seorang anak mengenal kasih, iman, karakter, moral, dan tanggung jawab.
“Gereja perlu mempersiapkan ayah dan ibu untuk menjadi pemimpin sekaligus pelayan dalam keluarga,” ujar Yohanis.
Ia menilai gereja tidak boleh hanya memperkuat pelayanan di dalam gedung gereja. Gereja juga harus hadir dalam kehidupan keluarga dan membekali orang tua agar mampu menjalankan peran pengasuhan, pendidikan iman, serta pembentukan karakter anak.
Seminar menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Prof. Dr. Jonathan L. Parapak dan Ibu Anne Parapak, yang membahas etos kerja dan relasi yang sehat. Materi lainnya meliputi ketahanan ekonomi keluarga, pemberdayaan perempuan, literasi digital, kesehatan mental, komunikasi keluarga, spiritualitas, dan peran keluarga dalam perubahan sosial.
Lahirkan Rencana Tindak Lanjut
Selain seminar, peserta melakukan pemetaan terhadap persoalan keluarga yang dihadapi masyarakat Tana Toraja. Diskusi melibatkan berbagai unsur untuk menemukan bentuk kolaborasi antara gereja, pemerintah, TP PKK, dan masyarakat.
Pada hari terakhir, forum membahas data sosial keluarga, perlindungan perempuan dan anak, serta hubungan ketahanan keluarga dengan pembangunan daerah.
Dari forum tersebut lahir sejumlah rekomendasi bagi gereja, Pemerintah Kabupaten Tana Toraja, dan TP PKK. Peserta juga mendorong adanya Rencana Tindak Lanjut 2027–2028 serta gagasan Gerakan Ketahanan Keluarga Tana Toraja.
Gerakan tersebut diharapkan menjadi agenda bersama yang berkelanjutan, sehingga ketahanan keluarga tidak berhenti pada kegiatan seminar, tetapi diterjemahkan dalam program nyata di tengah masyarakat.
Yohanis menegaskan bahwa perubahan besar harus dimulai dari keluarga.
«“Keluarga adalah gereja pertama tempat iman dihidupkan, sekolah pertama tempat karakter dibentuk, dan tempat pertama pelayanan dimulai.”»
PGIW Sulselra berharap hasil seminar tersebut dapat menjadi momentum untuk membangun keluarga Tana Toraja yang tangguh menghadapi perubahan zaman, sehat dalam relasi, kuat dalam iman, serta mampu menjadi berkat bagi masyarakat.
PGIW Sulselra — Berjalan Bersama, Melayani Bersama, Menguatkan Keluarga.
Foto tambahan